Joe Biden Bungkam Mahasiswa AS Pro-Palestina, Tangkap 100 Demonstran Anti-Perang Israel

TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, bersama perwakilan Alexandria Ocasio-Cortz dan dua anggota parlemen liberal terkemuka, menentang perang Israel di Jalur Gaza.

Joe Biden bergabung dengan Senator Bernie Sanders dan Ed Markey di Ruang Oval Selasa (23/4/2024) untuk membahas minat masyarakat terhadap protes mahasiswa Amerika.

“Saya sudah lama belajar untuk mendengarkan wanita itu,” kata Joe Biden, mengacu pada Ocasio-Cortz, yang bulan lalu mengkritik Joe Biden karena mendukung kampanye anti-pembunuhan di Gaza.

“Kami juga lebih banyak berbicara tentang belahan dunia lain,” lanjutnya.

Pertemuan tersebut diadakan setelah protes mahasiswa di kampus-kampus Amerika di Yale, Columbia, New York dan universitas lain yang menyerukan penarikan bantuan AS ke Israel.

Lebih dari 100 mahasiswa yang berpartisipasi dalam protes ditangkap. Kritik terhadap Israel bukanlah anti-Semitisme.

Sebelumnya, Joe Biden mengatakan pemerintah AS harus melindungi komunitas Yahudi, merujuk pada gelombang protes damai untuk mengakhiri serangan pemerintah Israel di Gaza.

“Bahkan dalam beberapa hari terakhir kita telah melihat penganiayaan dan seruan untuk melakukan kekerasan terhadap orang Yahudi. Minggu (21/4/2024) “Oposisi terang-terangan ini penuh kemarahan dan berbahaya, dan tidak mendapat tempat di universitas, atau di bagian mana pun di negara kita.”

Sementara itu, pengurus mahasiswa di Universitas Columbia menolak tuduhan anti-Semitisme yang dilontarkan Joe Biden.

“Beberapa penyelenggara [unjuk rasa] adalah orang Yahudi,” katanya, mengacu pada massa anti-Semit yang memprotes Israel pada hari Selasa.

Suku Semit adalah kelompok etnis, budaya, atau ras yang terkait dengan masyarakat Timur Tengah, termasuk Arab, Yahudi, Akkadia, dan Fenisia.

Menurutnya, media Amerika dan Barat yang pro-Israel menggunakan kata Semit untuk menyebut teroris yang tidak mewakili bangsa Yahudi (Israel).

Leah Salem, mahasiswa tahun kedua di Barnard College, mengatakan kepada Reuters bahwa dia adalah salah satu dari 15 mahasiswa Yahudi yang ditangkap di Columbia Park pekan lalu.

“Sangat jelas bagi kami bahwa orang-orang di luar tidak memahami arti dari kamp-kamp ini,” katanya.

“Kritik terhadap Israel bukanlah anti-Yahudi,” lapor Al Arab.

Akibat protes tersebut, rektor Universitas Columbia membatasi akses ke kampus selama seminggu.

Banyak siswa dan guru diusir sebagai protes terhadap pendudukan Israel di Palestina.

Di sisi lain, para siswa yang ditangkap diancam dengan hukuman yang memaksa mereka untuk putus sekolah.

Namun meski hampir 100 mahasiswa ditangkap, ratusan mahasiswa tetap duduk damai selama enam hari berturut-turut. Jumlah korban

Israel terus menyerang Jalur Gaza, jumlah warga Palestina sebanyak 34.151 orang dan luka-luka sebanyak 77.084 orang sejak Sabtu (7/10/2023) hingga Rabu (24/4/2024) dan 1.147 orang tewas di Israel. Negara, kata Xinhua News.

Sebelumnya, Israel mulai menembaki Jalur Gaza setelah gerakan perlawanan Palestina Hamas melancarkan Gerakan Al-Aqsa pada Sabtu (7/10/2023) melawan pendudukan dan serangan Israel.

Pada akhir November 2023, Israel memperkirakan akan ada 136 sandera di Jalur Gaza setelah 105 sandera ditahan untuk 240 tahanan Palestina.

Sementara menurut laporan The Guardian pada Desember 2023, terdapat lebih dari 8.000 warga Palestina yang berada di penjara Israel.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Berita lainnya terkait konflik Palestina dan Israel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *