Diskusi Hari Kanker: Tantangan Tidak Hanya Persoalan Medis, Tetapi Juga Masalah Pembiayaan

Tribunnews.com, Jakarta – Mengacu pada data dan peristiwa, kanker sekarang menjadi salah satu metode di seluruh dunia. World Cancer Observatory Globocan mengatakan bahwa pada tahun 2022 Indonesia mencatat lebih dari 408.661 kasus baru dengan 242.099 kematian kanker.  

Bahkan, jika tidak ada intervensi yang efektif, jumlah kasus ini diperkirakan akan meningkat sebesar 63 %pada tahun 2040. Kepala Pusat Kementerian Keuangan Ahmad Irsan A. Moeis mengungkapkan bahwa masalah kanker tidak hanya memiliki dampak medis, tetapi juga dalam hal pendanaan dan pendanaan.

Adapun Kementerian Kesehatan, setidaknya ada 6,3 juta orang yang menghadiri rumah sakit diagnosis kanker. 

“Jumlah ini dicatat oleh mengunjungi rumah sakit dan JKN [asuransi kesehatan nasional],” katanya dalam diskusi tentang kanker di Indonesia berjudul “Peran penting asuransi swasta dalam perawatan pribadi untuk kanker”. Debat ini adalah bagian dari seri yang menyatakan bahwa Hari Kanker Dunia menurun pada 4 Februari.  Masalahnya adalah, setidaknya, setidaknya anggaran JKN adalah 13 triliun rp.  

“Karena alasan ini, kanker bukan hanya karena masalah kesehatan, tetapi juga masalah pendanaan dan pembiayaan,” tulis Menteri Kesehatan dalam pengamatannya.

 Selain itu, pendanaan kanker menjadi semakin penting, mengingat pengobatan yang kompleks dan belum digunakan dalam komunitas investigasi. Jelas dari statistik, ada 2 dari 3 pasien kanker yang tahu diagnosis selama penyakit stadium serius. Masalahnya, pengobatan kanker stadium serius membutuhkan berbagai perawatan, dari kemoterapi hingga imunoterapi. Tantangan ini juga menyebabkan solusi kanker tinggi. Dia berharap akan ada sinergi positif antara pihak yang berkepentingan dan politisi. “Dimulai dengan pelaku dan layanan kesehatan, penyedia asuransi dan pembiayaan,” pungkasnya. Pada kesempatan yang sama, Presiden Tugure Teguh Budiman mengatakan bahwa kegiatan ini berkomitmen kepada perusahaan melalui Tugure Academy untuk meningkatkan pendidikan dan upaya untuk berkontribusi pada industri asuransi. Tugure, kata Teguh, mengevaluasi bahwa manipulasi kanker sangat mendesak dan membutuhkan kerja sama antara semua bagian. Bahkan, ia melanjutkan, setiap orang kanker memiliki berbagai kebutuhan manipulasi. “Sayangnya, keterlambatan diagnosis dan pembatasan asuransi kesehatan masih merupakan hambatan penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien,” katanya. Sebaliknya, Teguh menjelaskan bahwa meskipun masyarakat saat ini membantu program kesehatan BPJS, yang merupakan dasar utama dari sistem kesehatan nasional, kasus -kasus kanker terus berkembang. “Jumlah kasus kanker membutuhkan berbagai jenis pengobatan, seperti pengobatan inovatif seperti pengobatan target dan imunoterapi, peran asuransi kesehatan swasta menjadi semakin penting dalam memperluas akses ke pengobatan yang lebih efektif,” kata Teguh. Oleh karena itu, Teguh berharap bahwa melalui diskusi ini dapat dibuka secara bersamaan dengan berbagai panggilan untuk menerima solusi dari prospek yang berbeda. “Semoga kita dapat mempelajari peraturan dan pembiayaan yang mendukung kontrol kanker,” teguh menyimpulkan.

Tabel diskusi termasuk Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Ahmad Irsan dan Moeis, Wakil Presiden Senior dan Kepala Malaysia Re Mohamad Nizam Yahya, Dewan Direksi Ketua Serikat Teknologi Indonesia (Peruji) Ini berarti Presiden College Risiko dan Manajemen Asuransi (Stimra) Abitani Barkah Taim (Peruji) Hematologi di rumah sakit kanker medis. Cipto Mangunkusumo, Andhika Rahman.  Tidak hanya itu, diskusi itu juga dihadiri oleh perwakilan dari Union of Aryanthi Baramuli Putri Centri Cancer Intelligence Center (CISC). Sementara dari industri farmasi yang disajikan oleh perwakilan Manajer Akses Pasar dan Kebijakan PT PT Merck Sharp & Dohme Indonesia (MSD Indonesia) Donda Hutagalung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *